Jumatulis #5 Ketek – Bau Dewi

Aku tidak tahu kenapa teman-teman yang lain selalu menghindarinya. Padahal menurutku dia anak yang baik. Pendiam memang, tapi selalu ada senyum ketika dia mulai bicara. Dia, Dewi, teman sekelasku. Baru sekitar tiga bulan yang lalu wali kelas memperkenalkannya di depan kelas kami sebagai siswi pindahan dari SMA pulau seberang.

Sering diam-diam aku memerhatikannya, mencuri pandang. Saat dia duduk menyimak penjelasan guru di bangkunya, saat dia makan di kantin sekolah. Aku merasa kebiasaan ini mulai mengganggu, Dewi seperti telah memabukkanku. Walaupun terlalu malu untuk mendekatinya secara langsung, aku memutuskan segera bertindak.

Kuawali surat pertama untuknya dengan: “Dear Dewi yang Senyumnya Memabukkan…”

Begitu seterusnya sampai kami berganti berkirim sms. Terakhir sebelum janji pertemuan kami dia mengirim pesan.

“Aku mengidap Trimetilamina, masih maukah kau denganku?”

Aku yang tidak paham dengan istilah asing yang dia katakan, segera saja menjawab: “Ya tentu saja.”

Saat pertemuan pertama itu, kulihat lagi senyumnya. Kali ini secara langsung. tampak indah sekali, ditambah dengan cara bicaranya yang halus, dia benar-benar tampak seperti Dewi. Sesaat kami mulai saling mendekat, malu-malu memang diawalnya tapi rindu yang kami tahan untuk bertemu tidak bisa ditahan. Di momen inilah, saat dia mengangkat kedua tangannya untuk menyambut ajakan berpelukanku, kusadari sesuatu tentang suatu hal yang dulu mengganggu tentang dia. Tentang kenapa dia penyendiri yang lebih memilih tinggal di kelas saat waktu istirahat siang tiba. Tentang kenapa dia tetap sendiri saat makan di kantin. Bukan salah teman-temannya ternyata.

Meskipun ternyata bukan hanya senyum manisnya saja yang memabukkan, dia tetap Dewi-ku.

Jumatulis #2 Air Ketuban – Manfaat Air Ketuban

Bahkan sejak anak manusia masih berada dalam rahim ibunya, mekanisme yang sedemikian rapinya terjadi. Bagaimana lalu lintas zat antara ibu dan kandungannya terjaga, berjalan teratur. Dalam rahim, tersedia cairan ajaib yang akan melindungi dan merawat bayi sekaligus: air ketuban.

janin bayi

Sebagaimana Tuhan menciptakan dan kita menamainya rahim, Tuhan pun menyediakan air ketuban untuk Baca lebih lanjut

Jumatulis #4 Sofa – Bersandar Kenangan

“Jika memang cinta seindah semestinya, mengapa harus ada duka?”

“Jika cinta berubah  menjadi duka, mengapa tak bisa lepas?”

Pria itu hanya duduk merenung. Pertanyaan  mencengkeram  kepalanya, terngiang berputar tak mau pergi.

“Harus kujawab dengan apa?” pikirnya bertanya

“Hatiku telah hancur sekedar untuk merasainya.”

Diseka air matanya yang berlinang, malu sebenarnya untuk mengakui. Bahwa laki-laki harus menangis karena cinta. Kembali dia terduduk di kursi sofa itu. Sofa yang empuk dan nyaman, dengan warna coklat yang lembut, bantalan dengan tebal yang sesuai, dan tempat yang cukup untuk diisi berdua, sungguh menawan. Tapi saat ini hanya ada dia, empuk tak dapat  ia rasakan, nyaman tak bisa ia nikmati. Hanya pedih dan nestapa yang tertinggal.


Baca lebih lanjut

Jumatulis #3 Cepirit – Jamu Mujarab

Basah dan lengket. Terasa mengganggu. Aku khawatir tampak membekas. Harusnya aku tidak memaksakan minum jamu saat perut masih kosong. Tapi memang aku butuh sugesti jamu mujarab itu untuk hadir di acara tv sepenting ini. Jamu yang kata orang-orang tua kampungku bisa bikin orang kelihatan pinter.

“Pak Widoko, Anda kenapa?”

“Pak Wi, Anda tampak pucat. Apa pertanyaan saya terlalu sulit?”

“Ndak apa. Mbak moderator dan mas penanya, ayo lanjutkan dialog kita.”

Baca lebih lanjut

Jumatulis #2 Air Ketuban – Gadis Bisu

Menjelang aku menjadi ibu. Sudah 9 bulan seonggok darah daging ini bersemayam dalam rahimku. Berat aku membawanya, tapi penuh harap juga aku menantinya. Karena aku berharap anak ini akan lahir dengan selamat dan sempurna semua indera tubuhnya. Ada kekhawatiran tentang jabang bayi ini. Aku hanya seorang wanita buruh cuci yang tak punya cukup uang untuk membeli makanan bergizi. Untuk periksa rutin ke puskemas saja sudah payah kemampuanku. Belum lagi dengan kerja kasarku, nyaris terkuras tenaga setiap hari, hanya menyisakan lelah di sisa harinya. Aku khawatir bayiku terlahir tidak sehat, sama sepertiku.


Baca lebih lanjut