Jumatulis #14 Kisah di Kedung Sahwat

Meysa adalah perempuan muda aktivis feminisme yang gigih memperjuangkan isu-isu kesetaraan gender di kotanya. Dia ingin mematahkan dongeng lama bahwa perempuan selalu dibawah pria. Dia peluk erat idealismenya itu bahkan sampai ranjang tidurnya. Kawan-kawan sesama aktivis pun sangat menaruh hormat kepadanya. Meysa adalah gadis kecil yang tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri.

Lantang dan berani dia memimpin demonstrasi menolak penutupan lokalisasi di kotanya. Tak gentar dengan ancaman pihak yang pro dengan penutupan lokalisasi. Polisi menjadi penjaga ketertiban demonstrasi antar kedua belah pihak. Berjaga untuk kemungkinan terburuk karena para pengelola lokalisasi telah menyewa kumpulan preman untuk memblokir jalan masuk. Baca lebih lanjut

Jumatulis #13 Senja di Pulau Tidung

Ketika Mang Asep -tour guide Pulau Tidung yang kami sewa- menjelaskan pada kami tentang Jembatan Cinta,  aku malah membayangkan berupa-rupa jenis makhluk hidup yang ada di dalam laut; ikan, rumput laut, plankton dan sebagainya. Mereka berbagi tempat untuk hidup dalam terumbu karang. Begitu harmoni dalam warna-warni kehidupan. Dan diversifikasi dari olahan laut, termasuk air laut, dapat manusia manfaatkan seluruhnya.

“Hei Patih, kamu sedang ngelamun apa?” Rasti menepuk bahuku.

“Oh. Eh. Ehehehe, enggak kok Ras.”

Aduh, Tuhan memang Maha Adil. Dia menciptakan keindahan di laut, juga menciptakan indah di bumi. Untukku, indah yang mewujud di bumi itu Rasti. Baca lebih lanjut

Jumatulis #12 Pemilu (Pemilihan Lurah)

Keringat menetes deras sekali dari dahi Pak Bejo. Panas terik, siang yang panas seakan membakar ubun-ubunnya. Tapi tanah lumpur sawah yang dia pijak saat ini mampu sedikit mendinginkan. Kemarau tahun ini, selain membuat panas kulit juga membuat panas kepala dan hati. Pemilihan lurah yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini membuat pusing warga desa Ademayem. Masing-masing calon lurah,-cuma ada 2 calon kali ini- menjanjikan banyak harapan kepada mereka. Seakan ingin mengubah kehidupan mereka menjadi kehidupan hingar bingar bak kisah sinetron di tv. Padahal mungkin, Pak Bejo dan warga desa yang lain lebih memilih mendengar suara kicauan burung daripada mendengar kicauan kampanye mereka. Sisi baiknya, para warga panen sembako gratis dari para calon lurah. Kehidupan desa berlanjut sampai malam menjelang melingkupi desa Ademayem.

Malam ini Pak Samiran memulai jagongan politik  di pos ronda desa, beberapa warga sedang berkumpul.

“Sudah, mari kita pilih Pak Widoko saja. Lebih merakyat, sering blusukan ke rumah warga, gayanya sama kayak kita. Pokoknya Pak Widoko adalah kita deh.”

 “Jangan lah. Pak Widoko gak punya pawakan lurah. Baca lebih lanjut

Jumatulis #11 Janji Kakak (Bagian 1)

“Tindas dan bunuh saja mereka kaum inlander itu! Sisakan hanya perempuan dan anak-anak mereka. Kita beri tekanan penghabisan pada pemberontak sekarang, karena kita sudah bosan dengan gangguan mereka! Hahaha!” perintah Kapten Van Borg sambil tertawa.

Dengan gugup aku mulai menarik pelatuk senapan, mengarahkan pada para pribumi yang sedang berlarian ketakutan. Aku memejamkan mata. Dan beruntun kemudian suara tembakan dan bau mesiu. Menyalak dan meletus tanpa ampun mengenai manusia yang ada di depan moncongnya. Hari ini, nuraniku mati.

Dua tahun yang lalu aku mendaftar pada angkatan laut Kerajan Belanda. Semangat muda yang membawaku kemari. Semangat muda yang ingin mengetahui luas dunia, di luar wilayah negeri kami yang mungil. Kami ditugaskan untuk mengawal ekspedisi kapal dagang kerajaan yang bertujuan untuk mencari sumber rempah di timur jauh, membeli rempah langsung dari sumbernya untuk mendapatkan harga termurah kemudian kami jual lagi di Eropa. Tapi ketika kami menemukan negeri kepulauan indah ini, para petinggi ekspedisi merubah tujuannya. Mungkin mereka silap ketika melihat keramahan penduduknya kepada orang asing yang singgah, pada kesuburan tanahnya, dan pada sifat gampang percaya rakyat dan rajanya. Senyum persahabatan para diplomat kami berganti menjadi senyum culas menaklukkan. Dan dengan memberi upeti beberapa Gulden saja, kami sudah mendapat dukungan dari beberapa adipati dan syahbandar setempat. Negeri ini akan mudah dikuasai, begitu pikir kami. Baca lebih lanjut

Jumatulis #10 Pemandu Jalan

Bayangan aneh terbentang di mata. Aliran pekat menghadang pandangan.

“Darimana kabut ini datang?”

Aku menoleh kebelakang ke arah suara berasal. Anak perempuan kecil bergaun merah. Tangan kirinya memegang kipas kertas kecil berwarna coklat. Wajahnya kebingungan.

“Apa kamu takut Nak?”

Dia mengangguk. Kini wajahnya berganti sedih.

“Kamu sendirian disini?”

Aku berjalan kearahnya, hatiku berkata aku harus melindunginya. Kugandeng tangan dan kuusap-usap rambutnya, berusaha memberi pesan bahwa ada aku bersamanya sekarang.

“Ada jalan di depan! Mungkinkah kita bisa keluar melalui jalan itu?”

Aku terkejut mendengarnya. Kuarahkan mataku kedepan, mencari jalan yang dia katakan. Ada. Baca lebih lanjut