Mencicipi Ketan Susu Legendaris

Halo semua! Sudah lama sekali tidak ngeblog sejak tulisan terakhir untuk memperingati hari pahlawan (baca disini). Kali ini, saya akan menulis dengan tema yang agak berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya: tentang kuliner.

Sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang tempat ini dari teman saya. Tapi saat beberapa kesempatan teman-teman kuliner disini, saya tidak bisa ikut. Sebenarnya saya juga tidak begitu tertarik dengan ketan susu atau ‘tansu’ -begitu cara teman saya menyebut kuliner ini-.

“Kalau sekedar ketan susu sih dimana aja di Jakarta bisa didapet” pikir saya.

Kali ini, karena malam minggu dan memang sudah lama tidak kumpul dengan teman-teman ini saya iyakan ajakan mereka untuk kuliner tansu.

Baca lebih lanjut

Sebuah Pesan untuk Anakku Kelak

Untuk anakku yang belum terlahir,

Indonesia adalah negeri sejuta karunia dari Tuhan. Dari ujung barat ke timur, dari udara sampai menembus ke buminya, akan Kau temui karunia. Manusia-manusianya pun dikenal sebagai bangsa ramah dan santun dari Timur. Selalu menyambut ramah tamu yang masuk, menjaga kehormatan tamunya.

Tapi Nak, segala yang disebut karunia itu seakan menjelma menjadi kutukan. Negeri ini selalu menjadi rebutan. Bangsa-bangsa asing yang terkesima dengan kekayaan bumi nusantara ini, yang terheran-heran dengan keramahan penduduknya, menjadi silap. Mereka tidak ingin sekedar bertransaksi biasa, mereka ingin berkuasa.  Dan para pendahulu kita yang menyadari niat jahat tamu asing telah berjuang, dengan setiap bulir nyawa yang mereka miliki menyongsong kematian.

Diawal-awal abad keserakahan Eropa itulah, para pendahulu kita kewalahan menghadapi musuh asing dengan senjata yang lebih canggih. Mereka juga kalah karena strategi musuh yang lebih modern, hasil dari peradaban ilmu yang lebih beradab dari negeri kita ketika itu. Bukan saja dari para tamu asing itu, tapi dari saudara yang sama warna kulit dan bentuk hidungnya dengan kita waspadalah dengan mereka. Telah banyak kisah tragis pengkhianatan oleh saudara sendiri yang terbutakan oleh iming-iming kekuasaan dan harta semu dari penjajah, menikam perjuangan dan menindas bangsa sendiri.

Karena ilmu kita kalah. Karena kesadaran akan persatuan yang rendah kita mudah menyerah. Karena cita-cita yang dibenamkan paksa oleh penjajah, berabad kita terjajah. Maka camkan Nak: Baca lebih lanjut

Kutipan-kutipan yang Patut Direnungi dari Bumi Manusia

Bumi Manusia, Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia, Cetakan Ketiga, Hasta Mitra, 1980.

Bumi manusia adalah salah satu bagian dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Bercerita mengenai minke dan ber-setting waktu pada akhir abad 19 di Indonesia zaman kolonialisme Belanda, yang menggambakan situasi sosial budaya yang terjadi saat itu. Seperti kita ketahui, minke yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini adalah imajinasi Pram terhadap tokoh yang benar-benar ada, salah satu tokoh pejuang pergerakan nasional modern di Indonesia Raden Tirto Adi Suryo.

Dari sini juga dapat dilihat keluasan pengetahuan Pram terkait setiap aspek dalam cerita, yang diwakilkan oleh dialog setiap tokohnya. Berikut adalah beberapa kutipan yang menurut saya patut direnungkan dan masih relevan sampai saat ini: Baca lebih lanjut

Jumatulis Season 2 – 10 Perjalanan – Lamunan Singkat tentang Perjalanan

Suatu ketika saat blogwalking saya menemukan kalimat ini: “Perjalanan adalah mengubah cara dan pola berpikir, dari kenggumunan (ketakjuban) menjadi hal biasa saja. Saya tersenyum ketika membacanya, dan membenarkannya. Perjalanan akan mengubah cara dan pola pikir manusia, pengalaman dan pengetahuan yang didapat akan selalu memperbaharui cara manusia melihat keadaan.

Tentu kita ingat betapa waktu kita masih kecil dulu akan banyak hal yang akan membuat kita takjub. Hal-hal yang orang dewasa bisa lakukan akan menjadi hal keren di mata kita. Atraksi sulap yang kita saksikan akan menjadi keren di mata kita. Film-film kartun yang kita tonton juga akan menjadi keren di mata kita. Tapi seiring waktu, dengan bertambahnya usia, pengalaman dan pengetahuan kita hal-hal itu akan menjadi biasa saja.

Manusia memang harus selalu “berjalan”. Dia harus berjalan meninggalkan satu titik yang sudah dia pijak menuju titik berikutnya yang ada di depan. Memaknai dan membuat hidup perjalanan akan membuat hidup seseorang menjadi lebih berarti. Agar tidak hanya sekedar usia yang bertambah, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan. Perluas wawasan. Perdalam ilmu. Rasakan peran baru. Agar manusia menjadi manusia.