HOS Tjokroaminoto: Guru Bapak Bangsa

hos tjokroaminoto

HOS Tjokroaminoto (id.wikipedia.org)

Kalau ada yang mengikuti cerita Naruto, pasti kenal yang namanya hokage ketiga atau yang biasa dipanggil dengan nama Guru Sarutobi. Dia guru shinobi yang hebat, murid-muridnya: Jiraiya, Orochimaru dan Tsunade. Tapi seperti yg kita tahu, muridnya banyak yang mengambil jalan berbeda dengan gurunya ini, bahkan cenderung saling bermusuhan. Nah, kisah Tjokroaminoto ada kemiripan dengan hokage ketiga. Sebagai perkenalan coba baca syair beliau ini:

Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa

Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya
Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas

Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko
Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar

Syair di atas ditulis oleh Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, legenda pergerakan nasional Indonesia. Jika kita sepakat bahwa Sukarno, Hatta, Syahrir dsb adalah para pendiri bangsa, maka kita layak menyebut HOS Tjokroaminoto sebagai Gurunya Para Pendiri Bangsa. Karena beliau dikenal sebagai Pemimpin Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan massa modern pertama di Indonesia. Bahkan beberapa sejarawan menyebut lebih layak SI yang disebut sebagai organisasi pelopor kebangkitan nasional, bukan Budi Utomo (BU).

Tjokroaminoto dilahirkan di Madiun, 16 Agustus 1882. Berasal dari keluarga bangsawan tapi kemudian melepas gelar kebangsawanannya karena berontak pada budaya feodal yang ada. Hal ini pula yang menyebabkan beliau berselisih jalan dengan mertuanya, wakil bupati Ponorogo saat itu. Beliau memilih hidup sederhana di Surabaya dengan istri dan kelima anaknya sambil menyewakan rumahnya untuk indekos. Dirumahnya inilah kelak, para tokoh pergerakan yang indekos akan mewarnai sejarah Indonesia dengan  “cara perjuangannya” masing-masing. Ada Sukarno remaja yang kelak mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Presiden Pertama RI, Kartosuwiryo pendiri gerakan dan imam besar Negara Islam Indonesia (NII)/Darul Islam (DI), serta trio Muso-Alimin-Semaun yang akan mendirikan Partai Komunis Indonesia.

Bisa ditebak, perbedaan ideologi dan cara juang diantara ketiga murid beliau akhirnya jadi bom waktu yg meledak!

Baca lebih lanjut

Mencicipi Ketan Susu Legendaris

Halo semua! Sudah lama sekali tidak ngeblog sejak tulisan terakhir untuk memperingati hari pahlawan (baca disini). Kali ini, saya akan menulis dengan tema yang agak berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya: tentang kuliner.

Sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang tempat ini dari teman saya. Tapi saat beberapa kesempatan teman-teman kuliner disini, saya tidak bisa ikut. Sebenarnya saya juga tidak begitu tertarik dengan ketan susu atau ‘tansu’ -begitu cara teman saya menyebut kuliner ini-.

“Kalau sekedar ketan susu sih dimana aja di Jakarta bisa didapet” pikir saya.

Kali ini, karena malam minggu dan memang sudah lama tidak kumpul dengan teman-teman ini saya iyakan ajakan mereka untuk kuliner tansu.

Baca lebih lanjut

Sebuah Pesan untuk Anakku Kelak

Untuk anakku yang belum terlahir,

Indonesia adalah negeri sejuta karunia dari Tuhan. Dari ujung barat ke timur, dari udara sampai menembus ke buminya, akan Kau temui karunia. Manusia-manusianya pun dikenal sebagai bangsa ramah dan santun dari Timur. Selalu menyambut ramah tamu yang masuk, menjaga kehormatan tamunya.

Tapi Nak, segala yang disebut karunia itu seakan menjelma menjadi kutukan. Negeri ini selalu menjadi rebutan. Bangsa-bangsa asing yang terkesima dengan kekayaan bumi nusantara ini, yang terheran-heran dengan keramahan penduduknya, menjadi silap. Mereka tidak ingin sekedar bertransaksi biasa, mereka ingin berkuasa.  Dan para pendahulu kita yang menyadari niat jahat tamu asing telah berjuang, dengan setiap bulir nyawa yang mereka miliki menyongsong kematian.

Diawal-awal abad keserakahan Eropa itulah, para pendahulu kita kewalahan menghadapi musuh asing dengan senjata yang lebih canggih. Mereka juga kalah karena strategi musuh yang lebih modern, hasil dari peradaban ilmu yang lebih beradab dari negeri kita ketika itu. Bukan saja dari para tamu asing itu, tapi dari saudara yang sama warna kulit dan bentuk hidungnya dengan kita waspadalah dengan mereka. Telah banyak kisah tragis pengkhianatan oleh saudara sendiri yang terbutakan oleh iming-iming kekuasaan dan harta semu dari penjajah, menikam perjuangan dan menindas bangsa sendiri.

Karena ilmu kita kalah. Karena kesadaran akan persatuan yang rendah kita mudah menyerah. Karena cita-cita yang dibenamkan paksa oleh penjajah, berabad kita terjajah. Maka camkan Nak: Baca lebih lanjut

Kutipan-kutipan yang Patut Direnungi dari Bumi Manusia

Bumi Manusia, Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia, Cetakan Ketiga, Hasta Mitra, 1980.

Bumi manusia adalah salah satu bagian dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Bercerita mengenai minke dan ber-setting waktu pada akhir abad 19 di Indonesia zaman kolonialisme Belanda, yang menggambakan situasi sosial budaya yang terjadi saat itu. Seperti kita ketahui, minke yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini adalah imajinasi Pram terhadap tokoh yang benar-benar ada, salah satu tokoh pejuang pergerakan nasional modern di Indonesia Raden Tirto Adi Suryo.

Dari sini juga dapat dilihat keluasan pengetahuan Pram terkait setiap aspek dalam cerita, yang diwakilkan oleh dialog setiap tokohnya. Berikut adalah beberapa kutipan yang menurut saya patut direnungkan dan masih relevan sampai saat ini: Baca lebih lanjut