Pertanda Pagi 

Apa kabar pagi

Apakah fajar yang mengawalimu masih sama
Masihkah embun di daun membawa beningnya 

Dan bagaimana dengan udara…
Mengalirkah dengan sejuk hawanya

Serupa denganmu yang hadir seterbit fajar
Rindu ini menyesak muncul dalam hariku

Dengan segala pertanda yang sama yang melingkupi hadirmu 


Pagi, aku rindu padanya 

Istana Siak: Hadiah Sultan Melayu untuk Republik Indonesia

Berkat mbah gugel, saya tahu tentang tempat ini dan mengusulkan kepada kawan-kawan saya untuk ke sini sebagai penyegaran setelah penat bekerja. Dan berkat peta mbah gugel pula, kami yang baru pertama kali menapakkan kaki di tanah Melayu Riau dan tanpa bantuan warga lokal nekat menyusuri hutan sawit demi menemukan istana ini. Kurang lebih perjalanan yang kami tempuh memakan waktu 3 jam dengan jarak tempuh 100 KM dari Pekanbaru.

Kompleks istananya sendiri terletak di kompleks pemerintahan Kabupaten Siak Sri Indrapura, dan untuk menuju ke sana kami harus melewati jembatan besar yang membelah Sungai Siak.

Untuk masuk ke dalam istana, kami harus melepas alas kaki dan membayar tiket masuk tidak sampai Rp 15.000 per orangnya.

image

Dalam istana ini terdapat berbagai peninggalan kesultanan, mulai meriam sampai gramophone. Tapi yang paling terkenal ada dua, yaitu singgasana emas dan lukisan asli Napoleon yang dikirim langsung dari Perancis.

Masuk ke area dalam istana, langsung terlihat tempat dimana sultan menerima tamu kerajaan atau mengadakan pertemuan dengan para bawahannya.

Baca lebih lanjut

HOS Tjokroaminoto: Guru Bapak Bangsa

hos tjokroaminoto

HOS Tjokroaminoto (id.wikipedia.org)

Kalau ada yang mengikuti cerita Naruto, pasti kenal yang namanya hokage ketiga atau yang biasa dipanggil dengan nama Guru Sarutobi. Dia guru shinobi yang hebat, murid-muridnya: Jiraiya, Orochimaru dan Tsunade. Tapi seperti yang kita tahu, muridnya banyak yang mengambil jalan berbeda dengan gurunya ini, bahkan cenderung saling bermusuhan. Nah, kisah Tjokroaminoto ada kemiripan dengan hokage ketiga. Sebagai perkenalan coba baca syair beliau ini:

Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa

Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya
Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas

Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko
Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar

Syair di atas ditulis oleh Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, legenda pergerakan nasional Indonesia. Jika kita sepakat bahwa Sukarno, Hatta, Syahrir dsb adalah para pendiri bangsa, maka kita layak menyebut HOS Tjokroaminoto sebagai Gurunya Para Pendiri Bangsa. Karena beliau dikenal sebagai Pemimpin Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan massa modern pertama di Indonesia. Bahkan beberapa sejarawan menyebut lebih layak SI yang disebut sebagai organisasi pelopor kebangkitan nasional, bukan Budi Utomo (BU).

Tjokroaminoto dilahirkan di Madiun, 16 Agustus 1882. Berasal dari keluarga bangsawan tapi kemudian melepas gelar kebangsawanannya karena berontak pada budaya feodal yang ada. Hal ini pula yang menyebabkan beliau berselisih jalan dengan mertuanya, wakil bupati Ponorogo saat itu. Beliau memilih hidup sederhana di Surabaya dengan istri dan kelima anaknya sambil menyewakan rumahnya untuk indekos. Dirumahnya inilah kelak, para tokoh pergerakan yang indekos akan mewarnai sejarah Indonesia dengan  “cara perjuangannya” masing-masing. Ada Sukarno remaja yang kelak mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Presiden Pertama RI, Kartosuwiryo pendiri gerakan dan imam besar Negara Islam Indonesia (NII)/Darul Islam (DI), serta trio Muso-Alimin-Semaun yang akan mendirikan Partai Komunis Indonesia.

Bisa ditebak, perbedaan ideologi dan cara juang diantara ketiga murid beliau akhirnya jadi bom waktu yang meledak!

Baca lebih lanjut

Mencicipi Ketan Susu Legendaris

Halo semua! Sudah lama sekali tidak ngeblog sejak tulisan terakhir untuk memperingati hari pahlawan (baca disini). Kali ini, saya akan menulis dengan tema yang agak berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya: tentang kuliner.

Sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang tempat ini dari teman saya. Tapi saat beberapa kesempatan teman-teman kuliner disini, saya tidak bisa ikut. Sebenarnya saya juga tidak begitu tertarik dengan ketan susu atau ‘tansu’ -begitu cara teman saya menyebut kuliner ini-.

“Kalau sekedar ketan susu sih dimana aja di Jakarta bisa didapet” pikir saya.

Kali ini, karena malam minggu dan memang sudah lama tidak kumpul dengan teman-teman ini saya iyakan ajakan mereka untuk kuliner tansu.

Baca lebih lanjut